Pertolongan Pertama merupakan pemberian pertolongan
segera kepada penderita sakit atau korban kecelakaan yang memerlukan penanganan
medis dasar untuk mencegah cacat atau maut.
Tujuan Pertolongan Pertama :
1. Menyelamatkan
jiwa penderita
2. Mencegah
cacat
3. Memberikan
rasa nyaman dan menunjang proses penyembuhan
Prinsip Dasar P3K :
1. Pastikan
anda tidak menjadi korban berikutnya.
2. Pakailah
metode atau cara pertolongan yang cepat, mudah dan efisien.
3. Biasakan
membuat catatan tentang usaha-usaha pertolongan yang telah anda lakukan,
identitas korban, tempat dan waktu kejadian, dsb.
Komponen Sistem Penanggulangan
Gawat Darurat Terpadu:
1. Akses
dan Komunikasi. Masyarakat harus mengetahui kemana mereka harus meminta
bantuan, baik yang umum maupun yang khusus.
2. Pelayanan
Pra Rumah Sakit. Secara umum semua orang boleh memberikan pertolongan.
Klasifikasi Penolong:
a. Orang
Awam. Tidak terlatih atau memiliki sedikit pengetahuan pertolongan pertama
b. Penolong
pertama. Kualifikasi ini yang dicapai oleh KSR PMI
c. Tenaga
Khusus/Terlatih yaitu Tenaga yang dilatih secara khusus untuk menanggulangi
kedaruratan di Lapangan
3. Tansportasi.
Mempersiapkan penderita untuk ditransportasi.
Persetujuan Pertolongan :
1. Persetujuan
yang dianggap diberikan atau tersirat (Implied Consent). Persetujuan yang
diberikan pendarita sadar dengan cara memberikan isyarat, atau penderita tidak
sadar, atau pada anak kecil yang tidak mampu atau dianggap tidak mampu memberikan
persetujuan.
2. Pesetujuan
yang dinyatakan (Expressed Consent). Persetujuan yang dinyatakan secara
lisan maupun tulisan oleh penderita.
Alat Perlindungan Diri :
1. Sarung
tangan lateks.
2. Kaca
mata pelindung.
3. Baju
pelindung.
4. Masker
penolong.
5. Masker
Resusitasi Jantung Paru.
6. Helm.
Peralatan P3K :
1. Perban
2. Pembalut
/ bebat
3. Mitella (pembalut
segitiga)
4. Dasi (cravat)
5. Pita (pembalut
gulung)
6. Plester (pembalut
berperekat)
7. Kassa Steril
8. Bidai
Untuk
mencegah penularan penyakit melalui cairan tubuh yaitu :
1. Mencuci
Tangan
2. Membersihkan
peralatan
a. Mencuci:
membersihkan perlatan dengan sabun dan air
b. Desinfeksi:
menggunakan bahan kimia seperti alkohol untuk membunuh bakteri pathogen
c. Sterilisasi:
proses menggunakan bahan kimia atau pemanasan untuk membunuh semua mikroorganisme.
d. Menggunakan
APD
Pelaku Pertolongan Pertama
Pelaku pertolongan pertama adalah penolong yang
pertama kali tiba di tempat kejadian yang memiliki kemampuan dan terlatih dalam
penanganan medis dasar. Secara umum semua orang boleh memberikan pertolongan.
Kewajiban Pelaku Pertolongan Pertama :
1. Menjaga
keselamatan diri, anggota tim, penderita dan orang sekitarnya.
2. Dapat
menjangkau penderita.
3. Dapat
mengenali dan mengatasi masalah yang mengancam nyawa.
4. Meminta
bantuan/rujukan.
5. Memberikan
pertolongan dengan cepat dan tepat berdasarkan keadaan korban.
6. Membantu
pelaku pertolongan pertama lainnya.
7. Ikut
menjaga kerahasiaan medis penderita.
8. Melakukan
komunikasi dengan petugas lain yang terlibat.
9. Mempersiapkan
penderita untuk ditransportasi.
Kualifikasi Pelaku Pertolongan Pertama :
1. Jujur
dan bertanggungjawab.
2. Memiliki
sikap profesional.
3. Kematangan
emosi.
4. Kemampuan
bersosialisasi.
5. Kemampuannya
nyata terukur sesuai sertifikasi PMI. Secara berkesinambungan mengikuti kursus
penyegaran.
6. Selalu
dalam keadaan siap, khususnya secara fisik.
7. Mempunyai
rasa bangga.
Fungsi Alat dan Bahan Dasar :
1. Alat
dan bahan memeriksa korban
2. Alat
dan bahan perawatan luka
3. Alat
dan bahan perawatan patah tulang
4. Alat
untuk memindahkan penderita
5. Alat
lain yang dianggap perlu sesuai dengan kemampuan
PENILAIAN PENDERITA :
1. Penilaian
Keadaan
2. Penilaian
Dini
3. Pemeriksaan
Fisik
4. Riwayat
Penderita
5. Pemeriksaan
Berkala atau Lanjut
6. Serah
terima dan pelaporan
Penilaian keadaan
Penilaian keadaan dilakukan untuk memastikan situasi
yang dihadapi dalam suatu upaya pertolongan.
Keamanan lokasi :
1. Bagaimana
kondisi saat itu
2. Kemungkinan
apa saja yang akan terjadi
3. Bagaimana
mengatasinya
Setelah keadaan di atasi barulah kita mendekati dan
menolong korban. Adakalanya kedua ini berjalan bersamaan.
Tindakan saat tiba di lokasi :
1. Memastikan
keselamatan penolong, penderita, dan orang-orang di sekitar lokasi kejadian.
2. Penolong
harus memperkenalkan diri, bila memungkinkan:
Nama Penolong
Nama Organisasi
Permintaan izin untuk
menolong dari penderita / orang
3. Menentukan
keadaan umum kejadian (mekanisme cedera) dan mulai melakukan penilaian dini
dari penderita.
4. Mengenali
dan mengatasi gangguan / cedera yang mengancam nyawa.
5. Stabilkan
penderita dan teruskan pemantauan.
6. Minta
bantuan.
Sumber Informasi :
1. Kejadian
itu sendiri.
2. Penderita
(bila sadar).
3. Keluarga
atau saksi.
4. Mekanisme
kejadian.
5. Perubahan
bentuk yang nyata atau cedera yang jelas.
6. Gejala
atau tanda khas suatu cedera atau penyakit.
Penilaian Dini :
1. Kesan umum
Kasus Trauma – Mempunyai
tanda – tanda yang jelas terlihat atau teraba.
Kasus Medis – Tanpa tanda –
tanda yang terlihat atau teraba.
2. Periksa
Respon
A = Awas.
S = Suara.
N = Nyeri.
T = Tidak respon.
3. Memastikan
jalan napas terbuka dengan baik (Airway).
Pasien dengan respon.
Pasien yang tidak respon.
4. Menilai
pernapasan (Breathing) :
Dada naik dan turun secara penuh
Bernapas mudah dan lancar
Kualitas pernapasan normal (<8
x/menit dewasa, <10 x/menit anak – anak, 20 x/menit bayi)
Pernapasan yang kurang baik:
Dada tidak naik atau turun secara
penuh
kesulitan bernapas
Cyanosis (warna biru/abu – abu pada
kulit, bibir, atau kuku)
Kualitas pernapasan tidak normal
5. Menilai
sirkulasi dan menghentikan perdarahan berat
6. Hubungi
bantuan
Pemeriksaan fisik :
1. Penglihatan
(Inspection)
2. Perabaan
(Palpation)
3. Pendengaran
(Auscultation)
Beberapa hal yang dapat dicari pada saat memeriksa
korban :
1. P erubahan
bentuk (Deformities)
2. L uka
Terbuka (Open Ijuries)
3. N yeri (Tenderness)
4. B engkak (Swelling)
Pemeriksaan Fisik Head to Toe :
1. Kepala
Kulit Kepala dan Tengkorak
Telinga dan Hidung
Pupil Mata
Mulut
2. Leher
3. Dada
Periksa perubahan bentuk, luka
terbuka, atau perubahan kekerasan
Rasakan perubahan bentuk tulang
rusuk sampai ke tulang belakang
Lakukan perabaan pada tulang
4. Abdomen
Periksa rigiditas (kekerasan)
Periksa potensial luka dan infeksi
Mungkin terjadi cedera tidak
terlihat, lakukan perabaan
Periksa adanya pembengkakan
5. Punggung
Periksa perubahan bentuk pada
tulang rusuk
Periksa perubahan bentuk sepanjang
tulang belakang
6. Pelvis
7. Alat
gerak atas
8. Alat
gerak bawah
Pemeriksaan Tanda Vital :
1. Frekuensi
nadi
2. Frekuensi
napas
3. Tekanan
darah
4. Suhu
Denyut Nadi Normal :
1. Bayi:
120 – 150 x/menit
2. Anak:
80 – 150 x/menit
3. Dewasa:
60 – 90 x/menit
Frekuensi Pernapasan Normal:
1. Bayi:
25 – 50 x/ menit
2. Anak:
15 – 30 x/ menit
3. Dewasa:
12 – 20 x/ menit
Riwayat Penderita :
1. K = Keluhan
Utama (gejala dan tanda)
2. O = Obat-obatan
yang diminum
3. M = Makanan/minuman
terakhir.
4. P
= Penyakit yang diderita.
5. A
= Alergi yang dialami.
6. K
= Kejadian.
Pemeriksaan Berkelanjutan :
1. Keadaan respon
2. Nilai kembali
jalan napas dan perbaiki bila perlu
3. Nilai kembali
pernapasan, frekuensi dan kualitasnya
4. Periksa kembali
nadi penderita dan bila perlu lakukan secara rinci bila waktu memang
tersedia.
5. Nilai
kembali keadaan kulit
6. Periksa kembali
secara seksama mungkin ada bagian yang belum diperiksa atau sengaja
dilewati karena melakukan pemeriksaan terarah.
7. Nilai kembali
penatalaksanaan penderita, apakah sudah baik atau masih perlu ada tindakan
lainnya.
8. Pertahankan komunikasi
dengan penderita untuk menjaga rasa aman dan nyaman.
Pelaporan dan Serah terima :
1. Umur
dan jenis kelamin penderita
2. Keluhan
Utama
3. Tingkat
respon
4. Keadaan
jalan napas
5. Pernapasan
6. Sirkulasi
7. Pemeriksaan
Fisik yang penting
8. KOMPAK
yang penting
9. Penatalaksanaan
10. Perkembangan
lainnya yang dianggap penting
Pertolongan/Bantuan Hidup Dasar
Bantuan Hidup Dasar digunakan bila terjadi sumbatan
jalan napas, tidak menemukan adanya napas dan atau tidak ada nadi. Dalam
istilah kedokteran, terdapat 2 kategori ‘mati’:
1. Mati
Klinis
2. Mati
Biologis
Pertolongan :
1. Airway
Control (Penguasaan Jalan Napas)
a. Angkat
dagu-tekan dahi
b. Perasat
pendorongan rahang bawah (Jaw Thrust maneuver)
2. Breathing
Support (bantuan pernapasan / napas buatan )
3. Circulatoring
Support (Memulihkan sirkulasi darah)
Pingsan
Pingsan adalah suatu keadaan tidak sadarkan diri
seperti orang tidur pada seseorang akibat sakit, kecelakaan, kekurangan
oksigen, kekurangan darah, keracunan, terkejut/kaget, lapar/haus, kondisi fisik
lemah, dan lain sebagainya.
Gejala umum :
1. Pandangan
berkunang-kunang
2. Telinga
berdenging
3. Nafas
tidak teratur
4. Muka
pucat
5. Biji
mata melebar
6. Lemas
7. Keringat
dingin
8. Menguap
berlebihan
9. Tak
respon (beberapa menit)
10. Tak
respon (beberapa menit)
Penanganan :
1. Baringkan
korban dalam posisi terlentang
2. Tinggikan
tungkai melebihi tinggi jantung
3. Longgarkan
pakaian yang mengikat dan hilangkan barang yang menghambat pernafasan
4. Beri udara
segar
5. Periksa kemungkinan
cedera lain
6. Selimuti
korban
7. Korban
diistirahatkan beberapa saat
Perdarahan
1. Perdarahan
Luar
Macam-macam perdarahan luar :
a. Perdarahan
dari pembuluh rambut (kapiler)
b. Perdarahan
tidak hebat
c. Keluar
perlahan – lahan berupa rembesan
d. Biasanya
perdarahan berhenti sendiri walaupun tidak diobati
e. Mudah
untuk menghentikan dengan perawatan luka biasa
Perdarahan dari
pembuluh darah balik (vena) :
a. Warna
darah merah tua
b. Pancaran
darah tidak begitu hebat dibanding perdarahan arteri
c. Perdarahan
mudah untuk dihentikan dengan cara menekan dan meninggikan anggota
badan yang luka lebih tinggi dari jantung.
Perdarahan dari
pembuluh nadi (arteri) :
a. Warna
darah merah muda
b. Keluar
secara memancar sesuai irama jantung
c. Biasanya
perdarahan sukar untuk dihentikan
Penanggulangan
perdarahan luar :
a. Dengan
tangan
b. Sebaiknya
menggunakan kasa steril atau sapu tangan bersih
c. Balut
tekan dengan penekanan pada daerah luka
2. Perdarahan
Dalam
Penyebab :
a. Pukulan
keras, terbentur hebat
b. Luka
tusuk
c. Luka
tembak
d. Pecahnya
pembuluh darah karena suatu penyakit
e. Robeknya
pembuluh darah akibat terkena ujung tulang yang patah.
Cara Pertolongan :
a. Usahakan
mencegah terjadinya shock
b. Beri
banyak minum sebagai pengganti cairan tubuh yang keluar
c. Kalau
memungkinkan pasang infus
d. Usahakan
secepatnya dibawa ke RS
Luka Bakar
Pengolongan Luka Bakar :
1. Luka
Bakar Derajat Satu (Permukaan) meliputi permukaan kulit yang paling atas
(kulit Ari/Epidermis)
2. Luka
Bakar Derajat Dua. Sedikit lebih dalam, luka bakar jenis ini biasanya
menimbulkan rasa sakit yang luar biasa.
3. Luka
Bakar Derajat Tiga. Lapisan yang terkena tidak terbatas bahkan sampai
kedalam tulang dan rongga dalam, dalam tingkat ini tidak terasa sakit karena
syaraf telah rusak.
Penanganan Pertama Pada Luka Bakar :
1. Menjauhkan
korban dari sumber panas
2. Untuk
luka bakar kecil, dijaga agar tidak infeksi.
3. Bila
lebih luas, segera guyur dengan air mengalir untuk mengurangi panas dan
mencegah kerusakan terjadi lebih luas.
4. Luka
bakar akibat bahan kimia memerlukan netralisasi dengan air mengalir selama
15-30 menit.
5. Bila
disebabkan oleh aliran listrik, sumber listrik harus diputus dahulu atau korban
dijauhkan dari sumber listrik, baru luka diguyur air.
6. Luka
bakar yang luas (lebih dari 10% tubuh mengalami luka bakar derajat dua, atau
lebih dari 1% tubuh mengalami luka bakar derajat tiga), harus segera dibawa ke
rumah sakit.
7. Luka
bakar yang mengenai wajah, leher, jalan napas, tangan, kaki, kemaluan, harus
segera dibawa ke rumahsakit.
8. Usahakan
tidak menekuk seluruh atau bagian tubuh yang terkena luka bakar.
9. Jika
penderita kehilangan kesadaran sementara memanggil tenaga kesehatan, bila mampu
lakukan resusitasi jantung paru dan pernafasan buatan.
Larangan Dalam Luka Bakar :
1. Jangan
sekali-kali mengobati luka bakar dengan mengoleskan pasta gigi, mentega,
minyak, kecap, air kapur, dan semacamnya.
2. Jangan
memecahkan gelembung kulit yang timbul akibat luka.
3. Jangan
membalut luka dengan kapas karena akan melekat pada luka.
Gigitan Ular Berbisa
Penanganan Pertama Gigitan Ular :
1. Jangan
Panik
2. Amankan
posisi penolong dan korban.
3. Imobilisasi
korban dan Lakukan pembalutan elastic di atas luka gigitan untuk menghentikan
dan memperlambat laju bisa menuju ke jantung.
4. Tenangkan
korban, jangan banyak melakukan aktifitas atau gerakan yang menguras tenaga dan
mempercepat detak jantung
5. Lima
Kenali ular yang menggigit (Langkah Vital Dan Penting )
6. Enam
Lakukan tindakan pertolongan pertama
Mengidentifikasi Luka Gigitan :
1. Jika
dapat mengenali ular, sesuaikan tindakan pertolongan sesuai dengan karakter
efek bisa nya terhadap manusia.
2. Jika
luka gigitan terdapat dua titik yang nyata, berarti berbisa tinggi.
3. Jika
tidak dapat mengenali jenis ular, anggap bahwa itu ular yang berbisa tinggi dan
mematikan.
Penanganan Lanjutan :
1. Lepaskan
pembalut elastis
2. Cuci
luka dengan air dan sabun atau pembersih luka (Revanol)
3. Beri
obat antiseptik.
4. Jika
perlu, tutup luka dengan kain kassa atau biarkan tetap terbuka agar cepat
kering
Penanganan gigitan ular berbisa menengah :
1. Lepaskan
pembalut
2. Cuci
luka dengan pembersih luka yang ada (revanol)
3. Beri
antiseptic
4. Jika
perlu, tutup luka dengan kain kassa atau biarkan tetap terbuka agar cepat
kering
5. Usahakan
korban beristirahat sebentar
6. Beri
makanan atau minuman berkalori dan berprotein tinggi
7. Beri
vitamin tambahan
Bila tergigit ular jenis raksasa, ular python :
1. Posisikan
bagian luka di atas dari posisi jantung untuk mencegah pendarahan, lebih baik
dalam posisi berbaring
2. Hentikan
Pendarahan ! dengan melakukan prosedur penanganan pendarahan terbuka atau dapat
pula dengan teknik torniquet.
3. Istirahatkan
dan tenangkan korban
4. Upayakan
untuk evakuasi ke rumah sakit dengan tetap memperhatikan pendarahan agar tidak
terbuka lagi.
5. Beri
makanan atau minuman berkalori dan berprotein tinggi
6. Beri
vitamin tambahan
Penanganan Ular Berbisa Tinggi :
1. Posisikan
bagian yang terluka lebih rendah dari posisi jantung
2. Ikat
diatas luka sampai berkerut. Setiap 10 menit, kendorkan 1 menit
3. Buat
luka baru dengan kedalaman sekitar 1 cm dengan pisau, cutter, silet (yang
disterilkan atau tidak, tergantung situasi).
4. Keluarkan
darah sebanyak mungkin dengan cara mengurut kearah luka baru.
5. Tidak
dianjurkan melakukan proses pengeluaran darah dan racun dengan menyedot melalui
mulut.
6. Proses
itu dilakukan berulang –ulang hingga darah berwarna merah kehitaman dan berbuih
keluar semua dan berganti dengan darah berwarna merah segar.
7. Evakuasi
korban.
8. Informasikan
pada dokter bila korban elergi terhadap obat tertentu, identifikasi.
Shock
Yaitu: peredaran darah terganggu karena kekurangan cairan sehingga mengakibatkan
terganggunya alat tubuh.
Gejalanya:
1. kesadaran
menurun
2. denyut
nadi cepat >140/menit dan semakin lama melambat bahkan hilang
3. penderita
mual
4. badan
dingin, lembab dan pucat
5. napas
tidak teratur
6. pandangan
kosong,tidak bercahaya, pupil melebar.
Pertolongan:
1. Baringkan
kepala lebih rendah dari kaki kecuali gegar otak
2. tarik
lidah penderita keluar
3. bersihkan
hidung dan mulut dari sumbatan, selimuti
4. hentikan
pendarahan bila ada patah tulang pasang bidai
5. bawa
ke RS
Keseleo
Pertolongannya:
1. Istirahatkan
korban dengan letak keseleo ditnggikan
2. Boleh
dikomperes air hangat dan urut hati-hati
3. Bila
lutut dipasang kness dekker, lakukan pembalutan agar keras pada bagian lain
4. Bawa
ke RS untuk memastikan apakah ada retak atau patah tulang
Penyakit Penggunungan (Mountain Sickness)
1. Penyakit
kegunungan yang akut.
Gejala:
penderita merasa pusing, sakit
kepala, lelah, mengantuk, kedinginan, mual, dan muntah-muntah, pucat, sesak,
gelisah, susah konsentrasi, susah tidur.
Pertolongan:
Istirahatkan selama 24 s.d. 48 jam,
bila tidak ada perubahan turunkan ke tempat yang lebih rendah.
2. Penyakit
pegunungan akut disertai kelainan paru-paru.
Tanda-tanda:
batuk kering, bahkan batuk
berdarah, seesak napas, dada terasa teretekan denyut nadi makin cepat,
penderita pucat, membiru kemudian pingsan.
Pertolongan:
a. baringkan
dengan kepala lebih rendah dari bagian tubuh lainnya
b. berikan
pernapasan buatan bila perlu
c. turunkan
penderita ke tempat yang lebih rendah
d. bawa
ke RS
Tenggelam
Pertolongan :
1. beri
pernapasan buatan
2. raba
denyut nadi leher, bila tidak teraba lakukan pijatan jantung dengan cara
menekan atau memukul dada korban denga telapak tangan, melakukan sampai korban
sadar
3. kosongkan
air dalam perut dengan memiringkan kepala korban sedikit lebih rendah dari
perut
4. kemudian
letakan ke atas belakang hingga air keluar dari mulut.
Benda Asing yang Masuk Kedalam Tubuh
1. Benda
asing dihidung, misalnya pacet
a. Letakkan
segelas air dingin didepan rongga agar pacet keluar atau meneteskan air
tembakau kehidung
b. Setelah
pacet melepaskan gigitannya, tarik dengan pinset
2. Benda
asing ditelinga, misalnya serangga.
a. teteskan
beberapa tetes minyak tanah
b. Beri
air hangat
Gigitan Binatang
Binatang jika mengigit akan menimbulkan 3 masalah yaitu:
1. Perlukaan,
cara mengatasi:
a. mencuci
luka sampai bersih dengan air (steril).
b. Menghilangkan
adanya benda asing
c. membuang
jaringan yang mati
d. memberikan
anti septic
e. menjahit
luka.
2. Infeksi
cara mengatasi berikan anti serum.
3. Keracunan,cara
mengatasi:
a. tenangkan
penderita agar tidak cepat menjalar,
b. baringkan
penderita dengan posisi yang lebih rendah dari jantung
c. memberikan
ikatan yang kuat di atas dan bawah tempat yang digigit
d. cuci
sampai bersih
e. istirahatkan
tempat yang digigit
f. menghindari
manipulasi (pijit-pijit)
g. kirim
ke RS
Keracunan makanan
Pertolongan:
1. usahakan
penderita muntah dengan memekan langit-langit tenggorokan dengan jari melalui
mulut.
2. Setelah
muntah beri norit / arang ditumbuk halus
3. Bila
perlu diberikan napas buatan
Mimisan
Jika Anda mimisan, cobalah duduk. Perlahan, dongakkan kepala ke atas dan biarkan
mulut Anda terbuka. Menggunakan tangan, jepit bagian bawah lubang hidung dan
tahan sekitar 15 menit. Bernafaslah lewat mulut. Longgarkan jepitan perjalan. Jangan pegang area hidung selain
bagian bawah, dan tetaplah bernafas lewat mulut. Kalau 20 menit kemudian
mimisan belum juga berhenti, coba cari pertolongan medis.
Cegukan
Walaupun bukan penyakit yang fatal, cegukan kerap mengganggu. Untuk mengurangi
rasa tidak nyaman akibat cegukan, cara dasar yang ampuh adalah menstimulasi
diafragma sendiri. Tarik nafas panjang
dari hidung, tahan sekitar 5 detik, kemudian keluarkan perlahan dari mulut.
Perbanyak minum air putih, namun jangan sekali tenggak. Minum sedikit demi
sedikit dan telan pelan-pelan.
Mabuk perjalanan
Mabuk biasanya disebabkan oleh gerakan konstan yang menstimulasi telinga bagian
dalam. Untuk mencegahnya, mampirlah ke apotek sebelum melakukan perjalanan dan
belilah obat anti mabuk. Produk-produk yang mengandung Antihistamines bisa
mengatasi mabuk perjalanan kalau diminum satu jam sebelum berangkat.
Agar tidak pusing selama perjalanan, fokuskan padangan
lurus ke depan. Jangan lihat benda-benda yang letaknya dekat, atau objek yang
terus bergerak.
Serangan jantung
Serangan jantung bisa disebabkan oleh kelelahan akibat panas, saat Anda atau
teman terus-terusan berkeringat. Saat keringat itu berhenti sepenuhnya, tubuh
akan menjadi kering dan sulit bernafas. Hal
pertama yang harus dilakukan adalah meminta bantuan medis. Cari tahu nomor
telepon rumah sakit terdekat dan panggil ambulans. Yang terkena serangan jantung harus ada di tempat yang teduh
dan rindang. Posisikan dirinya dalam keadaan duduk, kepala sedikit didongakkan
ke atas. Ambil majalah/ buku dan kipas-kipas sampai temperatur tubuhnya kembali
normal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar