Hamil Pra Nikah
Dampak
kehamilan pranikah pada remaja :
1.
Masalah kesehatan Reproduksi
Kesehatan
reproduksi sangat penting bagi remaja (putri ) yang kelak akan menikah dan
menjadi orangtua. Kesehatan reproduksi yang prima akan menjamin generasi yang
sehat dan berkualitas. Di kalangan remaja telah terjadi semacam revolusi
hubungan seksual yang menjurus ke arah liberalisasi dan berakibat timbulnya
berbagai penyakit menular seksual yang merugikan alat reproduksi antara lain
sifilis, gonorhoe, herpes alat kelamin, condiloma akuminata, HIV dan pada
akhirnya AIDS.
Jika suatu saat ingin hamil normal maka besar kemungkinan alat reproduksi sudah
tidak baik dan menimbulkan berbagai komplikasi dalam kehamilan baik bagi ibu
maupun janin yang dikandung .
2.
Masalah psikologis pada kehamilan remaja
Remaja
yang hamil di luar nikah, menghadapi berbagai masalah tekanan psikologis. Yaitu
ketakutan, kecewa, menyesal dan rendah diri. Dampak terberat adalah ketika
pasangan yang menghamili tidak mau bertanggung jawab. Perasaan bersalah membuat
mereka tidak berani berterus terang pada orang tua.
Pada beberapa
kasus seringkali ditemukan remaja yang hamil pra nikah menjadi frustasi. Lalu
nekad berusaha melakukan pengguguran kandungan dengan pijat ke dukun. Biasanya
mereka mendapat referensi dari teman - taman sebaya agar minum obat - obatan
tertentu untuk menggugurkan kandungan padahal mereka tidak tahu bahwa obat
tersebut sangat berbahaya bagi keselamatan jiwa. Sementara dampak psikologis
dari pihak orang tua adalah perasaan malu dan kecewa. Merasa gagal untuk
mendidik putri mereka terutama dalam hal moral dan agama. Kehamilan di luar
nikah masih belum bisa diterima di masyarakat Indonesia. Sehingga anak yang
dilahirkan nantinya juga akan mendapat stigma sebagai anak haram hasil perzinahan.
Kendati ada juga yang kemudian dinikahkan, kemungkinan besar pernikahan
tersebut banyak yang gagal karena belum ada persiapan mental dan jiwa yang
matang .
3. Masalah sosial ekonomi
Keputusan untuk melangsungkan pernikahan diusia dini yang
bertujuan menyelesaikan masalah pasti tidak akan lepas dari kemelut seperti ;
penghasilan terbatas / belum mampu mandiri dalam membiayai keluarga baru ,
putus sekolah, tergantung pada orangtua. Remaja yang hamil dan tidak menikah
sering kali mendapat gunjingan dari tetangga. Masyarakat di Indonesia masih
belum bisa menerima single parent . Kontrol sosial dan moral dari masyarakat
ini memang tetap diperlukan sebagai rambu - rambu dalam pergaulan .
4.dampak kebidanan
Penyulit pada kehamilan remaja lebih tinggi dibandingkan
dengan “kurun waktu reproduksi sehat” antara umur 20 sampai dengan 30 tahun
.Hal ini karena belum matangnya sitem reproduksi yang berpengaruh besar
terhadap kesehatan ibu maupun janin .
Berbagai permasalahan kompleks tersebut di atas memudahkan terjadi :
a. Pengguguran kandungan dengan sengaja atau sering
disebut abortus provocatus.
Selain melanggar agama dan hukum juga berakibat
membahayakan keselamatan jiwa. Tindakan aborsi ilegal mengakibatkan terjadi
infeksi, perdarahan dan sebagai akibat lanjut adalah kemandulan.
b. Terjadi berbagai komlikasi kesehatan yang buruk bagi
janin dalam kandungan.
Antara lain persalinan prematur dan berat badan bayi yang
rendah karena kurang gisi. Gangguan pertumbuhan organ / bayi cacat akibat
pernah mengkonsumsi obat obatan, penggunaan korset untuk menutupi kehamilan
dengan menekan perut.
c . Komplikasi kehamilan pada ibu yang mengandung
- Anemia ( kekurangan sel darah merah / Hemoglobine )
karena kebutuhan gisi selama hamil tidak diperhatikan .
- Akibat stres berlebihan menimbulkan hiperemesis
gravidarum (mual muntah yang berlebihan)
- Terjadi kenaikan tekanan darah atau keracunan kehamilan
yang di sebut pre eklampsia atau berlanjut menjadi eklampsia dan dapat
mengancam jiwa.
- Terjadi infeksi baik saat hamil maupun masa nifas,
terutama pada kehamilan dengan latar belakang sosial ekonomi rendah.
- Meningkatkan angka kematian ibu.
Angka kematian ini terutama disebabkan karena percobaan pengguguran secara
ilegal oleh dukun dan mengakibatkan infeksi, perdarahan .
Sahabat bidancare di kompasiana, semoga apa yang saya sampaikan ini dapat
berguna. Sekali lagi keluarga adalah tempat pendidikan yang paling dasar untuk
membentuk kepribadian dan perilaku dari anak- anak. Semoga dasar keimanan dan
moral yang baik yang telah kita tanamkan sejak kanak - kanak dapat membuat
mereka bertahan ketika menghadapi pengaruh buruk lingkungan .
Duval dan Miller (1985) menjelaskan, bahwa bentuk-bentuk
keintiman heteroseksual yang dilakukan oleh sepasang manusia mengikuti suatu
proses peningkatan, yaitu mulai dari:
a.
Sentuhan
(hanya berupa pegangan tangan, pelukan)
b.
Cium
(mulai dari kecupan sampai deep kissing)
c.
Petting, yaitu meraba-raba daerah erotik
pasanagan (biasanya mulai dari yang ringan/light pettng sampai meraba alat
kelamin)
d.
Hubungan
seksual (sexsual intercourse)
Zastrow
( 1987 ) Mengungkapkan beberapa penyebab kehamilan pra nikah yang dialami oleh
para remaja:
a.
Penyebab utama terjadinya kehamilan
adalah misinformasi atau kurangnya informasi yang relevan.
b.
Mengabaikan bahwa tingkah laku seksual
akan menyebabkan kehamilan dan berasumsi bahwa pasanganyalah yang menggunakan
kontrasepsi walaupun kenyataan tidak tidak demikian. Banyak remaja yang enggan
menggunakan alat kontrasepsi dengan alasan bahwa mereka tidak mungkin hamil
atau kemungkinan hamil sangat kecil (Papalia & Old, 1995). Selain itu
banyak yang berfikir bahwa menggunakan kontrasepsi adalah tindakan yang tidak
bermoral, seolah-olah mereka merencanakan akan melakukan hubungan seksual.
Alasan lain tidak digunakanya kontrasepsi adalah kekhawatiran bahwa kenikmatan
dan spontanitas dalam hubungan seks akan berkurang atau timbul masalah yang
berhubungan dengan kesehatan.
c.
Bagi beberapa gadis, mereka tidak
memperdulikan apakah mereka akan hamil atau tidak. Bagi mereka kehamilan
membuktikan feminitas, mkengutkan status kedewasaan dan merupakan alat untuk
mendapat perhatiaan orang tua dan teman. Bahkan ada yang menggunakan kehamilan
sebagai cara untuk mengatasi masalah, untuk menghukum, atau justru merupakan
rewad bagi orang lain.
d.
Menyalahartikan atau kebingungan dalam
mengartikan konsep cinta, keintiman dan tingkah laku seksual. Remaja awal
cenderung berfikir bahwa seks adalah cara untuk mendapatkan pasangan, sedangkan
remaja akhir cenderung melakukan tingkah laku seksual jika telah ada ikatan dan
saling pengertian dengan pasangan. Seks sering dijadikan saran untuk
berkomunikasi dengan pasangan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar