Senin, 08 Maret 2021

PENANGANAN SEDERHANA UNTUK PATAH TULANG (FRAKTUR)

 


Patah tulang dikenal dalam dunia medis dengan istilah fraktur. Secara umum, ada dua jenis fraktur, yaitu fraktur terbuka (majemuk) dan fraktur tertutup (simplek). Pada fraktur tertutup tidak terdapat pecah/sobek pada kulit, sedangkan fraktur terbuka keadaannya lebih serius. Bukan saja kulit yang pecah, tetapi ujung tulang yang patah mungkin akan menonjol keluar dari kulit. Jenis fraktur terbuka jauh lebih serius karena berisiko besar terjadi infeksi.

 

Fraktur terbuka (kiri) dan fraktur tertutup (kanan). Foto : www.911emg.com

Fraktur harus mendapatkan perawatan yang benar. Karena jika tidak, fraktur tertutup pun akan menjadi fraktur terbuka akibat penanganan yang kasar atau menyalahi prosedur. Salah penanganan fraktur pada bagian-bagian tertentu dari tubuh bisa juga menyebabkan kerusakan pada paru-paru, kandung kemih dan organ-organ lainnya di dalam tubuh. Di bawah ini ada 6 langkah sederhana untuk merawat/menangani fraktur.

Penanganan Fraktur (Patah Tulang)

  1. Jika memungkinkan, segera panggil dokter.
  2. Cegah kerusakan lebih lanjut dengan memakaikan bidai pada bagian tubuh yang tulangnya patah sebelum berusaha memindahkan si korban.
  3. Si korban harus tetap dalam keadaan hangat dan nyaman demi menghindarkan shock.
  4. Jika terjadi pendarahan seperti pada fraktur terbuka, tekanlah dengan keras pembuluh-pembuluh darah yang sedang mengeluarkan darah, dengan memakaikan pembalut (kain) atau kain kasa yang bersih. Ada baiknya menerapkan langkah tourniquet. Gunting atau lepaskanlah pakaian si korban yang menutupi/mengganggu pandangan si penolong pada bagian tubuh yang patah.
  5. Jika si penolong melihat adanya tulang yang menonjol keluar dari kulit, tutupilah dengan kain kasa (boleh kain lainnya) yang bersih dan pakaikan sebuah bidai. Anggota badan sebaiknya tetap pada posisi sewaktu fraktur terjadi. Untuk perawatan selanjutnya, serahkan saja kepada dokter atau rumah sakit. 
  6. Jika merasa ragu apakah ada fraktur atau tidak, sebaiknya ambil aman saja, pakaikanlah sebuah bidai seperti halnya pada kejadian fraktur. Fungsi pemakaian bidai ini adalah untuk menahan patahan tulang supaya persendian yang didekatnya tidak dapat bergerak. Menggerakkan anggota tubuh yang patah bisa menyebabkan kerusakan yang lebih serius.

 

Cara Pemasangan Bidai


Jika tidak didapati kayu atau bahan keras lainnya yang pas untuk dijadikan bidai. Pakaikan apa saja yang mudah didapat seperti kain tebal yang keras (dilipat), bantal, selimut (dilipat), majalah atau juga koran yang dilipat. Cabang-cabang pohon, payung, tongkat, logam, gagang sapu, atau apa saja yang memungkinkan bisa dijadikan bidai. Yang terpenting, pastikan bidai tersebut kuat menahan bagian tubuh yang patah dari pergerakan.

 

 

Jika yang patah adalah bagian punggung, cari papan yang lebar agar si penolong dapat membawanya ke rumah sakit dengan selamat. Taruh papan itu disamping si korban dan gulingkan perlahan-lahan ke atas papan. Berhati-hatilah dalam memindahkannya dan jangan sampai membengkokkan punggungnya. Sesudah itu, si korban bisa segera di bawa ke rumah sakit. 


Membuat Usungan / Tandu


Untuk mengangkat si korban fraktur saat keadaan darurat sangat memerlukan kecakapan dan pertimbangan yang benar. Banyak korban fraktur keadaannya bertambah parah akibat penolong yang sembrono. Tujuan si penolong tentu saja baik, namun karena ketidaktahuan dan sifat yang tergesa-gesa karena ingin segera membawa si korban ke rumah sakit, mengakibatkan keadaan fraktur si korban semakin parah karena salah posisi dalam membawanya.

 

Untuk itu, ada baiknya untuk mengetahui penanganan yang baik untuk membawa korban fraktur seperti di bawah ini : 

  1. Baringkanlah si korban dalam keadan terlentang atau miring. Jika tidak ditemui usungan, pakai saja papan yang lebar yang cukup pas untuk seluruh tubuhnya, jika tidak ditemui, lepas daun pintu rumah dan jadikan sebagai usungan.
  2. Letakkan usungan di samping si korban, lalu gulingkan si korban perlahan-lahan ke atasnya. Posisi yang lebih baik adalah muka si korban menghadap ke atas (jangan tertelungkup).
  3. Ikat si korban dengan usungan dengan cara melingkarinya dengan tali, kain sprei atau bahan lainnya. Ikat dengan erat, pastikan posisinya tidak bergerak ketika usungan tersebut dalam keadaan miring atau terhentak.
  4. Angkat usungan perlahan-lahan dan bawa si korban ke rumah sakit untuk segera mendapatkan perawatan.

Itulah langkah sederhana untuk pertolongan pertama pada keadaan fraktur. Ingat, untuk semua keadaan darurat, pastikan diri Anda dan si korban tetap tenang, karena kepanikan hanya akan memperburuk keadaan.

P3K Dasar

 


 

Pertolongan Pertama merupakan pemberian pertolongan segera kepada penderita sakit atau korban kecelakaan yang memerlukan penanganan medis dasar untuk mencegah cacat atau maut.

Tujuan Pertolongan Pertama :

1.      Menyelamatkan jiwa penderita

2.      Mencegah cacat

3.      Memberikan rasa nyaman dan menunjang proses penyembuhan

Prinsip Dasar P3K :

1.      Pastikan anda tidak menjadi korban berikutnya.

2.      Pakailah metode atau cara pertolongan yang cepat, mudah dan efisien.

3.      Biasakan membuat catatan tentang usaha-usaha pertolongan yang telah anda lakukan, identitas korban, tempat dan waktu kejadian, dsb.

Komponen Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu:

1.      Akses dan Komunikasi. Masyarakat harus mengetahui kemana mereka harus meminta bantuan, baik yang umum maupun yang khusus.

2.      Pelayanan Pra Rumah Sakit. Secara umum semua orang boleh memberikan pertolongan. Klasifikasi Penolong:

a.       Orang Awam. Tidak terlatih atau memiliki sedikit pengetahuan pertolongan pertama

b.      Penolong pertama. Kualifikasi ini yang dicapai oleh KSR PMI

c.       Tenaga Khusus/Terlatih yaitu Tenaga yang dilatih secara khusus untuk menanggulangi kedaruratan di Lapangan

3.      Tansportasi. Mempersiapkan penderita untuk ditransportasi.

Persetujuan Pertolongan :

1.      Persetujuan yang dianggap diberikan atau tersirat (Implied Consent). Persetujuan yang diberikan pendarita sadar dengan cara memberikan isyarat, atau penderita tidak sadar, atau pada anak kecil yang tidak mampu atau dianggap tidak mampu memberikan persetujuan.

2.      Pesetujuan yang dinyatakan (Expressed Consent). Persetujuan yang dinyatakan secara lisan maupun tulisan oleh penderita.

Alat Perlindungan Diri :

1.      Sarung tangan lateks.

2.      Kaca mata pelindung.

3.      Baju pelindung.

4.      Masker penolong.

5.      Masker Resusitasi Jantung Paru.

6.      Helm.

Peralatan P3K :

1.      Perban

2.      Pembalut / bebat

3.      Mitella (pembalut segitiga)

4.      Dasi (cravat)

5.      Pita (pembalut gulung)

6.      Plester (pembalut berperekat)

7.      Kassa Steril

8.      Bidai

 Untuk mencegah penularan penyakit melalui cairan tubuh yaitu :

1.      Mencuci Tangan

2.      Membersihkan peralatan

a.       Mencuci: membersihkan perlatan dengan sabun dan air

b.      Desinfeksi: menggunakan bahan kimia seperti alkohol untuk membunuh bakteri pathogen

c.       Sterilisasi: proses menggunakan bahan kimia atau pemanasan untuk membunuh semua mikroorganisme.

d.      Menggunakan APD

Pelaku Pertolongan Pertama

Pelaku pertolongan pertama adalah penolong yang pertama kali tiba di tempat kejadian yang memiliki kemampuan dan terlatih dalam penanganan medis dasar. Secara umum semua orang boleh memberikan pertolongan.

Kewajiban Pelaku Pertolongan Pertama :

1.      Menjaga keselamatan diri, anggota tim, penderita dan orang sekitarnya.

2.      Dapat menjangkau penderita.

3.      Dapat mengenali dan mengatasi masalah yang mengancam nyawa.

4.      Meminta bantuan/rujukan.

5.      Memberikan pertolongan dengan cepat dan tepat berdasarkan keadaan korban.

6.      Membantu pelaku pertolongan pertama lainnya.

7.      Ikut menjaga kerahasiaan medis penderita.

8.      Melakukan komunikasi dengan petugas lain yang terlibat.

9.      Mempersiapkan penderita untuk ditransportasi.

Kualifikasi Pelaku Pertolongan Pertama :

1.      Jujur dan bertanggungjawab.

2.      Memiliki sikap profesional.

3.      Kematangan emosi.

4.      Kemampuan bersosialisasi.

5.      Kemampuannya nyata terukur sesuai sertifikasi PMI. Secara berkesinambungan mengikuti kursus penyegaran.

6.      Selalu dalam keadaan siap, khususnya secara fisik.

7.      Mempunyai rasa bangga.

Fungsi Alat dan Bahan Dasar :

1.      Alat dan bahan memeriksa korban

2.      Alat dan bahan perawatan luka

3.      Alat dan bahan perawatan patah tulang

4.      Alat untuk memindahkan penderita

5.      Alat lain yang dianggap perlu sesuai dengan kemampuan

PENILAIAN PENDERITA :

1.      Penilaian Keadaan

2.      Penilaian Dini

3.      Pemeriksaan Fisik

4.      Riwayat Penderita

5.      Pemeriksaan Berkala atau Lanjut

6.      Serah terima dan pelaporan

Penilaian keadaan

Penilaian keadaan dilakukan untuk memastikan situasi yang dihadapi dalam suatu upaya pertolongan.

Keamanan lokasi :

1.      Bagaimana kondisi saat itu

2.      Kemungkinan apa saja yang akan terjadi

3.      Bagaimana mengatasinya

Setelah keadaan di atasi barulah kita mendekati dan menolong korban. Adakalanya kedua ini berjalan bersamaan.

Tindakan saat tiba di lokasi :

1.      Memastikan keselamatan penolong, penderita, dan orang-orang di sekitar lokasi kejadian.

2.      Penolong harus memperkenalkan diri, bila memungkinkan:

Nama Penolong

Nama Organisasi

Permintaan  izin untuk menolong dari penderita / orang

3.      Menentukan keadaan umum kejadian (mekanisme cedera) dan mulai melakukan penilaian dini dari penderita.

4.      Mengenali dan mengatasi gangguan / cedera yang mengancam nyawa.

5.      Stabilkan penderita dan teruskan pemantauan.

6.      Minta bantuan.

Sumber Informasi :

1.      Kejadian itu sendiri.

2.      Penderita (bila sadar).

3.      Keluarga atau saksi.

4.      Mekanisme kejadian.

5.      Perubahan bentuk yang nyata atau cedera yang jelas.

6.      Gejala atau tanda khas suatu cedera atau penyakit.

Penilaian Dini :

1.      Kesan umum

Kasus Trauma – Mempunyai  tanda – tanda yang jelas terlihat atau teraba.

Kasus Medis – Tanpa tanda – tanda yang terlihat atau teraba.

2.      Periksa Respon

A = Awas.

S = Suara.

N = Nyeri.    

T = Tidak respon.

3.      Memastikan jalan napas terbuka dengan baik (Airway).

Pasien dengan respon.

Pasien yang tidak respon.

4.      Menilai pernapasan (Breathing) :

Dada naik dan turun secara penuh

Bernapas mudah dan lancar

Kualitas pernapasan normal (<8 x/menit dewasa, <10 x/menit anak – anak, 20 x/menit bayi)

Pernapasan yang kurang baik:

Dada tidak naik atau turun secara penuh

kesulitan bernapas

Cyanosis (warna biru/abu – abu pada kulit, bibir, atau kuku)

Kualitas pernapasan tidak normal

5.      Menilai sirkulasi dan menghentikan perdarahan berat

6.      Hubungi bantuan

Pemeriksaan fisik :

1.      Penglihatan (Inspection)

2.      Perabaan (Palpation)

3.      Pendengaran (Auscultation)

Beberapa hal yang dapat dicari pada saat memeriksa korban :

1.      P erubahan bentuk (Deformities)

2.      L uka Terbuka (Open Ijuries)

3.      N yeri (Tenderness)

4.      B engkak (Swelling)

Pemeriksaan Fisik Head to Toe :

1.      Kepala

Kulit Kepala dan Tengkorak

Telinga dan Hidung

Pupil Mata

Mulut

2.      Leher

3.      Dada

Periksa perubahan bentuk, luka terbuka, atau perubahan kekerasan

Rasakan perubahan bentuk tulang rusuk sampai ke tulang belakang

Lakukan perabaan pada tulang

4.      Abdomen

Periksa rigiditas (kekerasan)

Periksa potensial luka dan infeksi

Mungkin terjadi cedera tidak terlihat, lakukan perabaan

Periksa adanya pembengkakan

5.      Punggung

Periksa perubahan bentuk pada tulang rusuk

Periksa perubahan bentuk sepanjang tulang belakang

6.      Pelvis

7.      Alat gerak atas

8.      Alat gerak bawah

Pemeriksaan Tanda Vital :

1.      Frekuensi nadi

2.      Frekuensi napas

3.      Tekanan darah

4.      Suhu

Denyut Nadi Normal :

1.      Bayi: 120 – 150 x/menit

2.      Anak: 80 – 150 x/menit

3.      Dewasa: 60 – 90 x/menit

Frekuensi Pernapasan Normal:

1.      Bayi: 25 – 50 x/ menit

2.      Anak: 15 – 30 x/ menit

3.      Dewasa: 12 – 20 x/ menit

Riwayat Penderita :

1.      K = Keluhan Utama (gejala dan tanda)

2.      O = Obat-obatan yang diminum

3.      M = Makanan/minuman terakhir.

4.      P = Penyakit yang diderita.

5.      A = Alergi yang dialami.

6.      K = Kejadian.

Pemeriksaan Berkelanjutan :

1.      Keadaan respon

2.      Nilai kembali jalan napas dan  perbaiki bila perlu

3.      Nilai kembali pernapasan, frekuensi dan kualitasnya

4.      Periksa kembali nadi penderita dan bila perlu lakukan secara rinci bila waktu memang tersedia.

5.      Nilai kembali keadaan kulit

6.      Periksa kembali secara seksama mungkin ada bagian yang belum diperiksa atau sengaja dilewati karena melakukan pemeriksaan terarah.

7.      Nilai kembali penatalaksanaan penderita, apakah sudah baik atau masih perlu ada tindakan lainnya.

8.      Pertahankan komunikasi dengan penderita untuk menjaga rasa aman dan nyaman.

Pelaporan dan Serah terima :

1.      Umur dan jenis kelamin penderita

2.      Keluhan Utama

3.      Tingkat respon

4.      Keadaan jalan napas

5.      Pernapasan

6.      Sirkulasi

7.      Pemeriksaan Fisik yang penting

8.      KOMPAK yang penting

9.      Penatalaksanaan

10.  Perkembangan lainnya yang dianggap penting

Pertolongan/Bantuan Hidup Dasar

Bantuan Hidup Dasar digunakan bila terjadi sumbatan jalan napas, tidak menemukan adanya napas dan atau tidak ada nadi. Dalam istilah kedokteran, terdapat 2 kategori ‘mati’:

1.      Mati Klinis

2.      Mati Biologis

Pertolongan :

1.      Airway Control (Penguasaan Jalan Napas)

a.       Angkat dagu-tekan dahi

b.      Perasat pendorongan rahang bawah (Jaw Thrust maneuver)

2.      Breathing Support (bantuan pernapasan / napas buatan )

3.      Circulatoring Support (Memulihkan sirkulasi darah)  

Pingsan

Pingsan adalah suatu keadaan tidak sadarkan diri seperti orang tidur pada seseorang akibat sakit, kecelakaan, kekurangan oksigen, kekurangan darah, keracunan, terkejut/kaget, lapar/haus, kondisi fisik lemah, dan lain sebagainya.

Gejala umum :

1.      Pandangan berkunang-kunang

2.      Telinga berdenging

3.      Nafas tidak teratur

4.      Muka pucat

5.      Biji mata melebar

6.      Lemas

7.      Keringat dingin

8.      Menguap berlebihan

9.      Tak respon (beberapa menit)

10.  Tak respon (beberapa menit)

Penanganan :

1.      Baringkan korban dalam posisi terlentang

2.      Tinggikan tungkai melebihi tinggi jantung

3.      Longgarkan pakaian yang mengikat dan hilangkan barang yang menghambat pernafasan

4.      Beri udara segar

5.      Periksa kemungkinan cedera lain

6.      Selimuti korban

7.      Korban diistirahatkan beberapa saat

Perdarahan

1.      Perdarahan Luar

Macam-macam perdarahan luar :

a.       Perdarahan dari pembuluh rambut (kapiler)

b.      Perdarahan tidak hebat

c.       Keluar perlahan – lahan berupa rembesan

d.      Biasanya perdarahan berhenti sendiri walaupun tidak diobati

e.       Mudah untuk menghentikan dengan perawatan luka biasa

Perdarahan dari pembuluh darah balik (vena) :

a.       Warna darah merah tua

b.      Pancaran darah tidak begitu hebat dibanding perdarahan arteri

c.       Perdarahan mudah untuk dihentikan dengan cara menekan dan meninggikan anggota badan  yang luka lebih tinggi dari jantung.

Perdarahan dari pembuluh nadi (arteri) :

a.       Warna darah merah  muda

b.      Keluar secara memancar sesuai irama jantung

c.       Biasanya perdarahan sukar untuk dihentikan

Penanggulangan perdarahan  luar :

a.       Dengan tangan

b.      Sebaiknya menggunakan kasa steril atau sapu tangan bersih

c.       Balut tekan dengan penekanan pada daerah luka

 

2.      Perdarahan Dalam

Penyebab :

a.       Pukulan keras, terbentur hebat

b.      Luka tusuk

c.       Luka tembak

d.      Pecahnya pembuluh darah karena suatu penyakit

e.       Robeknya pembuluh darah akibat terkena ujung tulang yang patah.

Cara Pertolongan :

a.       Usahakan mencegah terjadinya shock

b.      Beri banyak minum sebagai pengganti cairan tubuh yang keluar

c.       Kalau memungkinkan pasang infus

d.      Usahakan secepatnya dibawa ke RS

Luka Bakar

Pengolongan Luka Bakar :

1.      Luka Bakar Derajat Satu (Permukaan) meliputi permukaan kulit yang paling atas (kulit Ari/Epidermis)

2.      Luka Bakar Derajat Dua. Sedikit lebih dalam, luka bakar jenis ini biasanya menimbulkan rasa sakit yang luar biasa.

3.      Luka Bakar Derajat Tiga. Lapisan yang terkena tidak terbatas bahkan sampai kedalam tulang dan rongga dalam, dalam tingkat ini tidak terasa sakit karena syaraf telah rusak.

Penanganan Pertama Pada Luka Bakar :

1.      Menjauhkan korban dari sumber panas

2.      Untuk luka bakar kecil, dijaga agar tidak infeksi.

3.      Bila lebih luas, segera guyur dengan air mengalir untuk mengurangi panas dan mencegah kerusakan terjadi lebih luas.

4.      Luka bakar akibat bahan kimia memerlukan netralisasi dengan air mengalir selama 15-30 menit.

5.      Bila disebabkan oleh aliran listrik, sumber listrik harus diputus dahulu atau korban dijauhkan dari sumber listrik, baru luka diguyur air.

6.      Luka bakar yang luas (lebih dari 10% tubuh mengalami luka bakar derajat dua, atau lebih dari 1% tubuh mengalami luka bakar derajat tiga), harus segera dibawa ke rumah sakit.

7.      Luka bakar yang mengenai wajah, leher, jalan napas, tangan, kaki, kemaluan, harus segera dibawa ke rumahsakit.

8.      Usahakan tidak menekuk seluruh atau bagian tubuh yang terkena luka bakar.

9.      Jika penderita kehilangan kesadaran sementara memanggil tenaga kesehatan, bila mampu lakukan resusitasi jantung paru dan pernafasan buatan.

Larangan Dalam Luka Bakar :

1.      Jangan sekali-kali mengobati luka bakar dengan mengoleskan pasta gigi, mentega, minyak, kecap, air kapur, dan semacamnya.

2.      Jangan memecahkan gelembung kulit yang timbul akibat luka.

3.      Jangan membalut luka dengan kapas karena akan melekat pada luka.

Gigitan Ular Berbisa

Penanganan Pertama Gigitan Ular :

1.      Jangan Panik

2.      Amankan posisi penolong dan korban.

3.      Imobilisasi korban dan Lakukan pembalutan elastic di atas luka gigitan untuk menghentikan dan memperlambat laju bisa menuju ke jantung.

4.      Tenangkan korban, jangan banyak melakukan aktifitas atau gerakan yang menguras tenaga dan mempercepat detak jantung

5.      Lima Kenali ular yang menggigit (Langkah Vital Dan Penting )

6.      Enam Lakukan tindakan pertolongan pertama

Mengidentifikasi Luka Gigitan :

1.      Jika dapat mengenali ular, sesuaikan tindakan pertolongan sesuai dengan karakter efek bisa nya terhadap manusia.

2.      Jika luka gigitan terdapat dua titik yang nyata, berarti berbisa tinggi.

3.      Jika tidak dapat mengenali jenis ular, anggap bahwa itu ular yang berbisa tinggi dan mematikan.

Penanganan Lanjutan :

1.      Lepaskan pembalut elastis

2.      Cuci luka dengan air dan sabun atau pembersih luka (Revanol)

3.      Beri obat antiseptik.

4.      Jika perlu, tutup luka dengan kain kassa atau biarkan tetap terbuka agar cepat kering

Penanganan gigitan ular berbisa menengah :

1.      Lepaskan pembalut

2.      Cuci luka dengan pembersih luka yang ada (revanol)

3.      Beri antiseptic

4.      Jika perlu, tutup luka dengan kain kassa atau biarkan tetap terbuka agar cepat kering

5.      Usahakan korban beristirahat sebentar

6.      Beri makanan atau minuman berkalori dan berprotein tinggi

7.      Beri vitamin tambahan

Bila tergigit ular jenis raksasa, ular python :

1.      Posisikan bagian luka di atas dari posisi jantung untuk mencegah pendarahan, lebih baik dalam posisi berbaring

2.      Hentikan Pendarahan ! dengan melakukan prosedur penanganan pendarahan terbuka atau dapat pula dengan teknik torniquet.

3.      Istirahatkan dan tenangkan korban

4.      Upayakan untuk evakuasi ke rumah sakit dengan tetap memperhatikan pendarahan agar tidak terbuka lagi.

5.      Beri makanan atau minuman berkalori dan berprotein tinggi

6.      Beri vitamin tambahan

Penanganan Ular Berbisa Tinggi :

1.      Posisikan bagian yang terluka lebih rendah dari posisi jantung

2.      Ikat diatas luka sampai berkerut. Setiap 10 menit, kendorkan 1 menit

3.      Buat luka baru dengan kedalaman sekitar 1 cm dengan pisau, cutter, silet (yang disterilkan atau tidak, tergantung situasi).

4.      Keluarkan darah sebanyak mungkin dengan cara mengurut kearah luka baru.

5.      Tidak dianjurkan melakukan proses pengeluaran darah dan racun dengan menyedot melalui mulut.

6.      Proses itu dilakukan berulang –ulang hingga darah berwarna merah kehitaman dan berbuih keluar semua dan berganti dengan darah berwarna merah segar.

7.      Evakuasi korban.

8.      Informasikan pada dokter bila korban elergi terhadap obat tertentu, identifikasi.

Shock
Yaitu: peredaran darah terganggu karena kekurangan cairan sehingga mengakibatkan terganggunya alat tubuh.
Gejalanya:

1.      kesadaran menurun

2.      denyut nadi cepat >140/menit dan semakin lama melambat bahkan hilang

3.      penderita mual

4.      badan dingin, lembab dan pucat

5.      napas tidak teratur

6.      pandangan kosong,tidak bercahaya, pupil melebar.

Pertolongan:

1.      Baringkan kepala lebih rendah dari kaki kecuali gegar otak

2.      tarik lidah penderita keluar

3.      bersihkan hidung dan mulut dari sumbatan, selimuti

4.      hentikan pendarahan bila ada patah tulang pasang bidai

5.      bawa ke RS

Keseleo

Pertolongannya:

1.      Istirahatkan korban dengan letak keseleo ditnggikan

2.      Boleh dikomperes air hangat dan urut hati-hati

3.      Bila lutut dipasang kness dekker, lakukan pembalutan agar keras pada bagian lain

4.      Bawa ke RS untuk memastikan apakah ada retak atau patah tulang

Penyakit Penggunungan (Mountain Sickness)

1.      Penyakit kegunungan yang akut.

Gejala:

penderita merasa pusing, sakit kepala, lelah, mengantuk, kedinginan, mual, dan muntah-muntah, pucat, sesak, gelisah, susah konsentrasi, susah tidur.

Pertolongan:

Istirahatkan selama 24 s.d. 48 jam, bila tidak ada perubahan turunkan ke tempat yang lebih rendah.

2.      Penyakit pegunungan akut disertai kelainan paru-paru.

Tanda-tanda:

batuk kering, bahkan batuk berdarah, seesak napas, dada terasa teretekan denyut nadi makin cepat, penderita pucat, membiru kemudian pingsan.
Pertolongan:

a.       baringkan dengan kepala lebih rendah dari bagian tubuh lainnya

b.      berikan pernapasan buatan bila perlu

c.       turunkan penderita ke tempat yang lebih rendah

d.      bawa ke RS

Tenggelam

Pertolongan :

1.      beri pernapasan buatan

2.      raba denyut nadi leher, bila tidak teraba lakukan pijatan jantung dengan cara menekan atau memukul dada korban denga telapak tangan, melakukan sampai korban sadar

3.      kosongkan air dalam perut dengan memiringkan kepala korban sedikit lebih rendah dari perut

4.      kemudian letakan ke atas belakang hingga air keluar dari mulut.

Benda Asing yang Masuk Kedalam Tubuh

1.      Benda asing dihidung, misalnya pacet

a.       Letakkan segelas air dingin didepan rongga agar pacet keluar atau meneteskan air tembakau kehidung

b.      Setelah pacet melepaskan gigitannya, tarik dengan pinset

2.      Benda asing ditelinga, misalnya serangga.

a.       teteskan beberapa tetes minyak tanah

b.      Beri air hangat

Gigitan Binatang
Binatang jika mengigit akan menimbulkan 3 masalah yaitu:

1.      Perlukaan, cara mengatasi:

a.       mencuci luka sampai bersih dengan air (steril).

b.      Menghilangkan adanya benda asing

c.       membuang jaringan yang mati

d.      memberikan anti septic

e.       menjahit luka.

2.      Infeksi cara mengatasi berikan anti serum.

3.      Keracunan,cara mengatasi:

a.       tenangkan penderita agar tidak cepat menjalar,

b.      baringkan penderita dengan posisi yang lebih rendah dari jantung

c.       memberikan ikatan yang kuat di atas dan bawah tempat yang digigit

d.      cuci sampai bersih

e.       istirahatkan tempat yang digigit

f.       menghindari manipulasi (pijit-pijit)

g.      kirim ke RS

Keracunan makanan

Pertolongan:

1.      usahakan penderita muntah dengan memekan langit-langit tenggorokan dengan jari melalui mulut.

2.      Setelah muntah beri norit / arang ditumbuk halus

3.      Bila perlu diberikan napas buatan

Mimisan
Jika Anda mimisan, cobalah duduk. Perlahan, dongakkan kepala ke atas dan biarkan mulut Anda terbuka. Menggunakan tangan, jepit bagian bawah lubang hidung dan tahan sekitar 15 menit. Bernafaslah lewat mulut.
Longgarkan jepitan perjalan. Jangan pegang area hidung selain bagian bawah, dan tetaplah bernafas lewat mulut. Kalau 20 menit kemudian mimisan belum juga berhenti, coba cari pertolongan medis.
Cegukan
Walaupun bukan penyakit yang fatal, cegukan kerap mengganggu. Untuk mengurangi rasa tidak nyaman akibat cegukan, cara dasar yang ampuh adalah menstimulasi diafragma sendiri.
Tarik nafas panjang dari hidung, tahan sekitar 5 detik, kemudian keluarkan perlahan dari mulut. Perbanyak minum air putih, namun jangan sekali tenggak. Minum sedikit demi sedikit dan telan pelan-pelan.
Mabuk perjalanan
Mabuk biasanya disebabkan oleh gerakan konstan yang menstimulasi telinga bagian dalam. Untuk mencegahnya, mampirlah ke apotek sebelum melakukan perjalanan dan belilah obat anti mabuk. Produk-produk yang mengandung Antihistamines bisa mengatasi mabuk perjalanan kalau diminum satu jam sebelum berangkat.
Agar tidak pusing selama perjalanan, fokuskan padangan lurus ke depan. Jangan lihat benda-benda yang letaknya dekat, atau objek yang terus bergerak.
Serangan jantung
Serangan jantung bisa disebabkan oleh kelelahan akibat panas, saat Anda atau teman terus-terusan berkeringat. Saat keringat itu berhenti sepenuhnya, tubuh akan menjadi kering dan sulit bernafas.
Hal pertama yang harus dilakukan adalah meminta bantuan medis. Cari tahu nomor telepon rumah sakit terdekat dan panggil ambulans. Yang terkena serangan jantung harus ada di tempat yang teduh dan rindang. Posisikan dirinya dalam keadaan duduk, kepala sedikit didongakkan ke atas. Ambil majalah/ buku dan kipas-kipas sampai temperatur tubuhnya kembali normal.